Review Pelatihan Batch 159– Media sosial merupakan salah satu ruang digital yang memberikan banyak informasi terkait dengan kehidupan sosial. Tidak heran jika media sosial menjadi peran sentral untuk merepresentasikan kasus, dan fenomena sosial dalam kehidupan sehari-hari. Seperti halnya ujaran kebencian. Pada tahun 2017, kasus ujaran kebencian meningkat menjadi 44,99% dari 3.325 kasus di Indonesia. BBC mengungkapkan bahwa kasus ujaran kebencian muncul dikarenakan adanya sentimen terhadap kelompok-kelompok tertentu. Kasus ini mencuak di beranda sosial media. Banyak orang-orang percaya dan mengikuti, dan banyak orang yang tidak percaya, tetapi masih mengikuti. Kasus ini tentu telah mempengaruhi para pengguna sosial media. Informasi yang diterima di beranda terkadang direpresentasikan dan diinterpretasikan dalam kehidupan sehari-hari. Terkadangpula membuat misrepresentasi dan misinterpretasi terhadap trust issues pada sosial media.
Menariknya, sosial media yang mempengaruhi para pengguna dalam memunculkan permasalah ujaran kebencian, diakibatkan adanya algoritma_yang sering kali muncul di beranda saat membukanya. Walaupun demikian, algoritma sosial media bukanlah hal yang buruk, bisa saja algoritma memberikan peluang bagi seseorang untuk menciptakan kreasi dan analisis dalam sebuah pandangan. Dari sinilah, Prof. Dr. Irwan Abdullah memberikan gambaran terkait probability dan memahami algoritma untuk menganalisis data dalam discussion artikel scopus.
Bagi Prof. Dr. Irwan Abdullah algoritma memainkan peran penting bagi seseorang ketika sedang membuka media sosial. Algoritma memahami setiap detik ketukan mata seseorang saat berhenti melihat layar handphone. Algoritma akan memunculkan informasi tersebut secara terus-menerus, dan menjadikan konsumsi bagi siapa saja yang memulainya dengan rasa penasaran. Sebagai seorang penulis dan peneliti, algoritma bisa menjadi probability_peluang terbaik dalam menganalisis data. Kunci SWOT adalah menanyakan apa implikasi algoritma bekerja? Maka darisinilah akan muncul misrepresentasi atau interpretasi terkait dengan pemahaman data.
Menurut Prof. Dr. Irwan Abdullah algoritma mencatat dua hal dalam aktivitas sosial media. Pertama, language learning (pembelajaran bahasa), algoritma berperan mencatat bahasa kita, apa yang kita tulis, yang kita tulis itu akan dijadikan probabilitas, semakin kita menulis itu, dia akan memprediksi itulah selera kita. Kedua, melalui gaze (tatapan), berapa detik mata retina kita berhenti, algoritma menganggap itu sebagai selera. Dalam kasus ujaran kebencian, algoritma berfungsi memberikan informasi sesuai dengan catatan digital yang muncul di beranda. Kasus ini biasa disebut For Your Page (FYP), yang mana selalu muncul saat seseorang membuka, berhenti, dan membuka kembali website atupun platform. Algoritma bekerja sebagai tanggapan selera untuk banyak orang terhadap one single idea (satu ide). Sehingga, terbentuk dan terbangun menjadi gagasan yang dibangun oleh kecepatan, intensitas yang ditampilkan di sosial media. Dari hal tersebutlah, memunculkan implikasi saat kita membuat analisis. Implikasinya bisa saja misrepresentasi. Prof Dr. Irwan juga mengaitkan dalam kasus agama. Baginya, diskusi agama juga bisa dimunculkan oleh algoritma. Agama yang awalnya didefinisikan secara luas, bisa menjadi sempit. Sehingga bahasa lain adalah penyempitan selera, penyempitan pengetahuan, dan inilah analisisnya.
Sebagai penulis dan peneliti, memahami algoritma media untuk menganalisis data di discussion adalah probability (peluang). Informasi-informasi yang dikeluarkan di sosial media setiap detik, setiap jam, dan setiap hari akan membuat para penulis menganalisis why (mengapa). Dalam pertanyaan inilah dapat mengumpulkan data-data media tersebut untuk diolah dengan memetakan single idea untuk menjadi tulisan yang relevan dalam topik penelitian yang telah ditulis. Dengan demikian, akan ada probability dalam menulis, dan memahami sistem algoritma bekerja.
