Bagikan Berita

Review Artikel Sahabat IAS – IA Scholar baru saja menerima kabar baik dari salah satu alumnusnya, Muhammad Hairul Saleh dan Yahdi Qolbi, yang merupakan akademisi dan peneliti di Universitas Mulawarman, Samarinda, Kalimantan Timur. Beliau mengikuti program pelatihan selama 5 hari di Studio IA Scholar Foundation pada batch 114. Kemudian bersama teman-temannya pak Saleh dan pak Yahdi telah berhasil menerbitkan artikel ilmiah yang berjudul “Indigenous Acceptance of Migrants on Sebatik Island at the Indonesia–Malaysia Border” artikel ini menawarkan wawasan mendalam mengenai penerimaan masyarakat setempat terhadap migran di wilayah perbatasan internasional di tengah meningkatnya mobilitas global. Dengan mengacu pada konsep harmoni sosial, studi ini bertujuan untuk memahami faktor-faktor yang membentuk penerimaan lokal serta dinamika interaksi antara penduduk asli dan migran.

Artikel ini mengidentifikasi ruang-ruang sosial yang memfasilitasi interaksi antar-kelompok masyarakat, yakni masyarakat adat yang ada di perbatasan Indonesia-Malaysia. Perseptif ini di dukung oleh Abdullah (2006), yang menyatakan bahwa mengakomodasi keragaman etnis memerlukan ruang publik di mana perbedaan antaretnis perlahan memudar melalui interaksi. Ruang-ruang publik ini memungkinkan komunikasi lintas etnis, sehingga membuka jalan bagi terciptanya penerimaan. Sebagai contoh, masyarakat adat Tidung yang mayoritas Muslim dapat beradaptasi secara sosial dengan masyarakat Timor yang mayoritas Katolik. Dalam konteks interaksi sosial-budaya, Saleh mengatakan bahwa Pulau Sebatik sebagai wilayah perbatasan menghadapi persoalan kompleks yang dapat ditelaah melalui tiga aspek. Pertama, sebagai simpul perdagangan transnasional, Pulau Sebatik telah menjadi pusat aktivitas ekonomi lintas batas yang mencakup perdagangan internasional maupun pasar lokal, sehingga turut memengaruhi hubungan sosial dan budaya di tengah masyarakatnya. Kedua, perannya sebagai titik transit bagi arus migrasi antarwilayah dan antarnegara telah menciptakan komposisi sosial yang lebih dinamis. Namun, Salah mengatakn bahwa secara keseluruhan, hal ini menimbulkan risiko disintegrasi sosial dan budaya antara masyarakat adat dan kaum pendatang. Ketiga, ancaman dominasi oleh komunitas pendatang memicu munculnya stereotip serta persaingan dalam memperebutkan sumber daya lokal, yang pada akhirnya menyebabkan marginalisasi ekonomi dan politik bagi penduduk asli Pulau Sebatik. Bagi Saleh penciptaan ruang interaksi sosial yang akomodatif menjadi hal yang krusial guna memperkuat kohesi sosial antara penduduk asli dan pendatang, sekaligus memfasilitasi integrasi budaya yang harmonis.

Temuan penting lainnya dari Saleh dan kawan-kawan yaitu menunjukkan bahwa penerimaan penduduk asli terhadap pendatang telah melampaui batasan ruang politik, ekonomi, dan sosial-budaya; sebaliknya, penerimaan tersebut secara mendasar terjadi dalam ruang keagamaan yang berlandaskan nilai-nilai Islam yang telah menyatu dengan tradisi lokal dan kehidupan sehari-hari, sehingga menciptakan identitas perbatasan bersama. Interaksi yang berkelanjutan ini mendorong negosiasi identitas dan menghasilkan kohesi sosial yang relatif stabil dalam masyarakat multikultural.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *