IA Scholar Foundation kembali melaksanakan pelatihan penulisan karya tulis ilmiah (artikel) scopus yang ke-155. Pelatihan ini berlangsung selama empat hari di Yogyakarta pada 17-20 Juni 2026. Kali ini IA Scholar Foundation kedatangan tamu dari IAIN Takengon berjumlah satu orang dan UIN Tulungagung sebanyak delapan orang, serta satu orang mahasiswa S2 Hubungan Internasional dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Kedatangan para tamu pelatihan menulis disambut hangat oleh tim IA Scholar Foundation.

Kali ini, pelatihan menulis artikel di IA Scholar Foundation sangat spesial, yang awalnya dimulai pada hari Selasa, kini IA Scholar Foundation memulainya pada hari Rabu 17 Juni 2026. Pelatihan ini dibuka dengan rumus SPINS yang dipaparkan oleh Prof. Dr. Saifuddin Zuhri Qudsy dan Dr. Hasse Jubba selaku Mentor Senior dan Direktur IA Scholar Foundation. Pembukaan ini cukup memberikan pemantik bagi para kandidat penulis artikel scopus, pasalnya konsep SPINS ini sering diterapkan oleh Prof. Dr. Irwan Abdullah selaku founder IA Scholar diberbagai kegiatan seminar nasional maupun internasional dalam penulisan karya tulis Ilmiah terindeks scopus. Tentu, ini merupakan moment yang sangat berharga, karena yang menyampaikan materi terkait SPINS yaitu para mentor Senior IA Scholar Foundation saat pembukaan pelatihan yang ke batch-155.
SPINS merupakan paradigma menulis IA Scholar Foundation yang menjadi jargon para mentor untuk memberikan gambaran terkait jurnal scopus. Hal ini dikarenakan bahwa paradigma SPINS digunakan diberbagai tamplate dan fokus jurnal dalam menentukan topik penelitian dan ketertarikan disetiap bidang keilmuan para peneliti. Hasse menjelaskan bahwa SPINS dalam rumus IA Scholar terdiri dari Specific, Powerful, Important, Novelty, dan Supported. Yang semua itu, diikuti dengan berbagai analisisi mendalam terkaiat keilmuan seseorang dalam menulis artikel. Salah satunya yang menjadi contoh yaitu Specific, Hasse menjelaskan bahwa dalam rumus ini, penulis harus menulis topik penelitian yang spesifik dengan penelitian yang diinginkan oleh pengelola jurnal. Seperti contoh, perebutan lahan dalam konflik komunal pada masyarakat pegunungan tengah. Bagi Hasse, ada beberapa yang harus diperhatikan dalam perebutan lahan tersebut, yaitu factor pembentukkan batas-batas sosial dalam konflik pada masyarakat plural. Spesifikasi ini yang harus menjadi tameng utama dalam mengangkat sebuah isu penelitian yang muncul pada masyarakat lokal. Selain itu, terlihat Prof. Dr. Saifuddin Zuhri juga memberikan sedikit pemahaman terkait dengan CCTES, yaitu penentuan topik terkait dengan Controversy, Change, Trend, Emergency, dan Solution. Konsep ini menurut Saif harus dimunculkan dalam judul penelitian seseorang. Jika konsep ini dibunyikan, maka potensial artikel diterima di scopus akan berpeluang besar.
Selama pelatihan ini, para peserta begitu antusias dalam mendengarkan dan mempraktikkan konsep-konsep kepenulisan artikel scopus yang dibawa oleh IA Scholar Foundation. Para peserta terlihat begitu senang dan tekun dalam menulis artikel scopus. Apalagi, pemahaman-pemahaman yang disampaikan oleh dua mentor IA Scholar membuat para peserta begitu bersemangat untuk menyelesaikan penulisa artikel scopus selama empat hari di IA Scholar Foundation. Dengan demikian, pelatihan ini memunculkan peluang bagi para peserta untuk menembus scopus melalui sebuah pelatihan di IA Scholar foundation.
