Creswell (2009) memandang bahwa metode penelitian dapat dilihat dari pandangan dunia sebagai orientasi umum tentang dunia dan sifat penelitian. Pandangan dunia ini dibentuk oleh bidang disiplin ilmu mahasiswa, kepercayaan penasihat dan fakultas di bidang studi mahasiswa, dan pengalaman penelitian sebelumnya. Bagi Creswell jenis kepercayaan yang dianut oleh masing-masing peneliti seringkali mengarah pada penggunaan pendekatan kualitatif, kuantitatif, atau metode campuran dalam sebuah penelitian. Cresswell menawarkan empat pandangan dunia yang dapat dibunyikan dalam sebuah penelitian yaitu postpositivisme, konstruktivisme, advokasi/partisipatif, dan pragmatisme. Dari empat pandangan dunia, yang menjadi pembahasan utama yaitu terkait postpositivist dalam pandangan dunia.
Menurut Cresswell (2009) menjelaskan bahwa asumsi postpositivis telah mewakili bentuk penelitian tradisional, dan asumsi ini lebih berlaku untuk penelitian kuantitatif daripada penelitian kualitatif. Kenapa? Karena pandangan dunia dalam positivisme terkadang disebut sebagai metode ilmiah atau melakukan penelitian ilmiah secara temuan data. Ia juga disebut penelitian positivis/postpositivis, ilmu empiris, dan postpostivisme karena membuktikan hopotesis yang dikembangkan melalui elemen-elemen perhitungan. Istilah terakhir ini disebut postpositivisme karena mewakili pemikiran setelah positivisme, menantang gagasan tradisional tentang kebenaran absolut pengetahuan dan mengakui bahwa kita tidak dapat “positif” tentang klaim pengetahuan kita ketika mempelajari perilaku dan tindakan manusia.
Bagi Cresswell (2009) postpositivis menganut filosofi deterministik di mana sebab kemungkinan besar menentukan akibat atau hasil. Masalah yang dipelajari oleh postpositivis mencerminkan kebutuhan untuk mengidentifikasi dan menilai sebab yang memengaruhi hasil, seperti yang ditemukan dalam eksperimen. Selain itu, filosofi ini juga bersifat reduksionistik karena tujuannya adalah untuk mereduksi ide-ide menjadi serangkaian ide kecil dan terpisah untuk diuji, seperti variabel yang membentuk hipotesis dan pertanyaan penelitian. Pengetahuan yang dikembangkan melalui lensa postpositivis didasarkan pada pengamatan dan pengukuran yang cermat terhadap realitas objektif yang ada “di luar sana” di dunia. Sehingga, mengembangkan ukuran numerik dari pengamatan dan mempelajari perilaku individu menjadi sangat penting bagi seorang postpositivis. Terakhir, dalam pandangan positivism ada hukum atau teori yang mengatur dunia, dan ini perlu diuji atau diverifikasi dan disempurnakan agar kita dapat memahami dunia. Dengan demikian, dalam metode ilmiah, pendekatan yang diterima untuk penelitian oleh postpositivis, seseorang memulai dengan sebuah teori, mengumpulkan data yang mendukung atau membantah teori tersebut, dan kemudian melakukan revisi yang diperlukan sebelum pengujian tambahan dilakukan.
Cresswell (2009) memandang bahwa ada beberapa asumsi-asumsi utama dari posisi positivisme, seperti:
- Pengetahuan bersifat dugaan (dan antifundasional), bagi Cresswell kebenaran absolut tidak pernah dapat ditemukan. Baginya, bukti yang ditetapkan dalam penelitian selalu tidak sempurna dan dapat salah. Karena alasan inilah para peneliti menyatakan bahwa mereka tidak membuktikan hipotesis; sebaliknya, mereka menunjukkan kegagalan untuk menolak hipotesis tersebut.
- Penelitian adalah proses membuat klaim dan kemudian menyempurnakan atau meninggalkan beberapa di antaranya untuk klaim lain yang lebih kuat. Sebagian besar penelitian kuantitatif, misalnya, dimulai dengan pengujian suatu teori. Teori yang dianggap tidak sesuai dengan pengujian variebel akan membuat peneliti mencari keabsahan dalam membuktikan penelitian.
- Data, bukti, dan pertimbangan rasional membentuk pengetahuan. Dalam praktiknya, peneliti mengumpulkan informasi tentang instrumen berdasarkan pengukuran yang dilakukan oleh peserta atau melalui pengamatan yang dicatat oleh peneliti.
- Penelitian berupaya mengembangkan pernyataan yang relevan dan benar, pernyataan yang dapat menjelaskan situasi yang menjadi perhatian atau yang menggambarkan hubungan sebab akibat yang diminati. Dalam studi kuantitatif, peneliti mengembangkan hubungan antar variabel dan mengajukannya dalam bentuk pertanyaan atau hipotesis.
- Objektivitas adalah aspek penting dari penelitian yang kompeten; peneliti harus memeriksa metode dan kesimpulan untuk memastikan tidak ada bias. Misalnya, standar validitas dan reliabilitas penting dalam penelitian kuantitatif.
Dengan demikian, pandangan dunia dalam positivism mengkaji pendekatan yang lebih rumit terkait dengan penelitian kuantitatif. Penelitian ini lebih menekankan akan kebenaran yang absolut dalam sebuah penemuan-penemuan penelitian. Kebenaran ini dimulai dalam sebuah pengujian hipotesis yang relevan dengan kajian yang dimiliki.
Untuk mempelajari metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan metode campuran. Anda dapat mengikuti kelas di IA Scholar Foundation. Kelas ini akan menawarkan para penulis, peneliti, mahasiswa, dan dosen untuk dapat merancang karya tulis ilmiah sesuai dengan pendekatan yang relevan dalam penelitian yang dimiliki. Apalagi, IA Scholar Foundation memiliki mentor yang berpengalaman membimbing para peserta untuk dapat menyelesaikan tulisan tepat pada waktunya. Jika anda berminat untuk belajar di IA Scholar Foundation, anda dapat mengunjungi website kami dan mencari program yang sesuai dengan anda. Berikut linknya: https://iascholar.org.
