Negara-negara berkembang saat ini pernah menjadi bangsa yang terjajah oleh bangsa Eropa pada zaman dulu. Indonesia dan Afrika misalnya, pada abad ke-16 Eropa masuk untuk menguasasi Indonesia. Sedangkan di Afrika pada abad ke-19, Eropa telah menguasi permukiman mereka. Dua negara ini menjadi saksi bisu bahwa saat penjajahan dari Eropa masuk, hal yang paling terpenting mengubah dan dipertahankan oleh mereka yaitu budaya dan warisan budaya kolonialisme. Sebab ketika dijajah, bangsa tersebut akan meninggalkan budaya-budaya Eropa yang senantiasi diwarisi dalam bentuk budaya. Permasalahan inilah yang memicu para ilmuwan untuk mencari diskursus yang tepat untuk menganalisis budaya dan konsep kolonial yang masih melekat pada masyarakat.
Budaya dan dekolonial sebagai diskursus kritis terhadap suatu pentehauan. Budaya menceritakan terkait dengan kehidupan masyarakat yang memiliki praktik dan kehidupan-kehidupan sosial yang muncul dalam aktivitas sehari-hari. Sedangkan dekolonial muncul sebagai perubahan untuk melihat permasalah-permasalahan budaya masyarakat yang telah terikat dengan warisan Kolonial. Dekolonial bertujuan untuk memperbaiki memperbaiki kembali kolonialisme pada budaya masyarakat. Dari sinilah, muncul jurnal-jurnal di bidang cultural studies dan decolonial studies yang diterbitkan oleh Publisher Taylor & Francis.
Cultural Studies mengkaji bagaimana praktik budaya berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, sejarah, struktur kekuasaan, afek, ideologi, ekonomi, politik, pengetahuan, teknologi, dan lingkungan. Sejak awal kemunculannya pada tahun 1987, Cultural Studies memaknai istilah “budaya” sebagai sesuatu yang terus berkembang dan inklusif—bukan eksklusif. Oleh karena itu, jurnal ini terus mendukung bidang tersebut dalam skala global dengan menyajikan beragam perspektif kontemporer mengenai artefak dan praktik populer. Studi Budaya menerbitkan artikel, ulasan, kritik, karya seni, serta bentuk-bentuk produksi budaya dan intelektual lainnya yang mencakup berbagai disiplin ilmu humaniora dan ilmu sosial.
*Journal for Cultural Research* adalah jurnal internasional yang menerbitkan karya penelitian orisinal dari penulis mapan maupun penulis baru—yang berasal dari berbagai wilayah di belahan dunia Utara dan Selatan—yang turut membentuk masa depan filsafat budaya dan kebijakan budaya di abad ke-21. Sebagaimana ranah budaya kini tak lagi dapat dipisahkan dari persoalan tata kelola (*the governable*), di lingkungan akademis pun, penelitian telah menjadi ciri penentu dari budaya itu sendiri. *Journal for Cultural Research* bertujuan menyediakan wadah bagi penulis, baik di dalam maupun di luar lingkungan akademis, untuk melakukan refleksi kritis terhadap paradoks dalam meneliti budaya serta praktik penelitian budaya sebagai instrumen utama pemerintahan yang didasari oleh hasrat untuk tidak dikuasai atau diatur. JCR mendorong penulisan yang bersifat reflektif-diri yang mampu menantang pendekatan ilmu sosial yang bersifat formulaik dan dianggap lumrah begitu saja; JCR juga terbuka untuk mempertimbangkan bentuk luaran akademis lainnya, seperti esai audio dan video. Para penulis diharapkan dapat mengeksplorasi titik temu antara budaya dengan berbagai ranah atau praktik penelitian yang biasanya menjadi acuan dalam mendefinisikan budaya tersebut, termasuk—namun tidak terbatas pada—bidang media, politik, teknologi, ekologi, filsafat, sejarah, ekonomi, geografi, arsitektur, masyarakat, seni, sains, dan hal-hal yang bersifat sakral.
Continuum adalah jurnal akademik yang berfokus pada studi media dan budaya. Selama lebih dari dua dekade, jurnal ini telah berkontribusi pada pembentukan disiplin ilmu tersebut dengan mengidentifikasi bidang-bidang penelitian baru serta mengembangkan agenda kajian baru di bidang-bidang terkait. Jurnal ini secara konsisten menyediakan wadah bagi suara-suara baru yang penting dalam studi media dan budaya, sekaligus menampilkan karya para akademisi bereputasi internasional. Saat ini, Continuum merupakan salah satu jurnal yang paling disegani dan paling banyak dikutip dalam bidang studi media dan budaya. Jurnal ini memiliki peran sentral bagi para akademisi yang terlibat dalam penelitian dan pengajaran studi media dan budaya, serta menyajikan informasi dan gagasan penting untuk mengkaji pembentukan media dalam budaya dan budaya media itu sendiri.
*Social Semiotics* adalah jurnal yang melalui proses penelaahan sejawat (*peer-reviewed*) dan menerbitkan makalah berkualitas tinggi yang membahas studi mengenai sumber daya serta praktik semiotik—termasuk kata, gambar, perilaku, latar, suara, desain, dan sebagainya—serta bagaimana hal-hal tersebut berkaitan dengan tatanan masyarakat dan kehidupan sehari-hari. Artikel harus berfokus pada fenomena semiotik tertentu dan, dalam argumen serta kesimpulannya, memuat kritik terhadap batasan dan variasi cara sumber daya atau praktik semiotik dapat melanggengkan bias dan ketimpangan, atau melegitimasi serta mempertahankan bentuk-bentuk kepentingan kekuasaan. Analisis semiotik dalam artikel dapat menggunakan pendekatan analisis linguistik, analisis visual, analisis konten, etnografi, wawancara, maupun studi produksi, serta dapat dikaitkan dengan ekonomi politik. Jurnal ini secara khusus menyambut baik makalah yang menganalisis fenomena sehari-hari dan signifikansi sosiopolitis dari representasi.
*Identities: Global Studies in Culture and Power* mengkaji pembentukan dan transformasi identitas rasial, etnis, nasional, transnasional, dan pascakolonial di dunia kontemporer. Jurnal ini menempatkan budaya, representasi, dan identitas sebagai ranah kunci bagi proses dominasi, perjuangan, dan perlawanan, seraya mengakui persinggungannya dengan bentuk-bentuk pembagian sosial dan identifikasi lainnya. *Identities* menyediakan wadah lintas disiplin bagi penelitian empiris baru yang berlandaskan teori serta analisis kritis yang mengeksplorasi isu-isu seputar ras, etnisitas, dan budaya. Jurnal ini menghimpun dan memadukan wawasan dari berbagai bidang, seperti antropologi, kajian budaya, sosiologi, kebijakan sosial, geografi budaya, ilmu politik, dan psikologi sosial. *Identities* berupaya merangkul para akademisi, baik yang telah mapan maupun yang sedang berkembang di bidang ini, untuk berkontribusi melalui artikel berkualitas tinggi, edisi khusus, komentar, dan perdebatan yang membahas persoalan-persoalan utama terkait budaya dan identitas yang menjadi fokus jurnal ini.
*Postcolonial Studies* adalah jurnal internasional pertama yang didedikasikan untuk mengkaji perjumpaan kolonial serta beragam cara di mana relasi dan proses kolonial telah dan terus membentuk tatanan dunia global. Dalam konteks sejarah dunia, perjumpaan kolonial merupakan peristiwa penuh kekerasan yang warisannya terus terasa hingga masa kini. Kolonialisme membentuk relasi antarmanusia melalui berbagai cara. Hal ini melahirkan karya sastra dan seni yang khas, serta subjektivitas politik dan ketimpangan ekonomi yang brutal. Relasi kolonial dan proses kolonialitas yang lebih luas dikaji dari berbagai perspektif lintas disiplin. Teori pascakolonial menawarkan perspektif kritis yang khas terhadap beragam situasi, baik secara historis maupun di masa kini. *Postcolonial Studies* merupakan forum terkemuka bagi intervensi yang relevan dengan situasi terkini serta perdebatan mendalam yang mencakup—namun tidak terbatas pada—kolonialisme pemukim dan hubungan antara penduduk asli dengan pemukim, nasionalisme, kewarganegaraan, status tanpa kewarganegaraan, kekerasan politik, gender dan seksualitas, pengungsian dan migrasi, keadilan iklim dan etika lingkungan, relasi manusia dan non-manusia, gerakan dekolonisasi, estetika, serta puitika keterlibatan kolonial.
*The Journal of Postcolonial Writing* adalah jurnal akademik yang didedikasikan untuk kajian teks sastra dan budaya yang dihasilkan di berbagai wilayah pascakolonial di seluruh dunia. Jurnal ini mengeksplorasi persinggungan antara penulisan pascakolonial, teori kritis pascakolonial beserta teori terkait, serta kekuatan ekonomi, politik, dan budaya yang membentuk perkembangan global kontemporer. Selain kajian yang berfokus pada fiksi sastra, drama, dan puisi, kami menerbitkan artikel berbasis teori yang membahas beragam genre dan media—termasuk film, seni pertunjukan, dan praktik budaya lainnya—yang mengangkat isu-isu relevan bagi studi pascakolonial. Secara khusus, kami berupaya mengedepankan suara-suara diaspora serta teks-teks kreatif dan kritis yang berasal dari berbagai wilayah pinggiran, baik di tingkat nasional maupun global.
Jurnal-jurnal diatas merupakan jurnal di bidang budaya dan postcolonial yang diterbitkan oleh Taylor & Francis. Jurnal tersebut terindeks scopus dan dapat diakses secara terbuka. Bagi sahabat IAS yang tertarik untuk mencari jurnal scopus sesuai dengan bidang keilmuannya, sahabat IAS perlu mengunjungi website kami. Disini kami akan menampilkan program pelatihan, berita-berita khusus, dan jurnal-jurnal sahabat IAS yang terindeks scopus. Berikut linknya: https://iascholar.org.
