Rabu, 9 September 2026, IA Scholar Foundation kembali mengadakan pelatihan online kepada mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Pelatihan ini sangat rutin dilakukan setiap bulan. Ada sekitar 16 orang yang mendaftar dan mengikuti secara daring di program Writing online course IA Scholar Foundation. Seperti biasa, Prof. Dr. Irwan Abdullah selaku founder dan mentor IA Scholar menyampaikan materi pertama yang disebut sebagai paradigma menulis scopus. Paradigma ini dibentuk atas dasar pengalaman IA Scholar Foundation mendidik peserta dan berhasil mencetak para penulis yang produktif dalam menulis scopus. Bagi Prof. Irwan, menulis itu ada dua hal. Pertama, temuan tentang masalah yang tidak ada orang tau, maka itu disebut sebagai finding. Alasan ini mengarah pada, bagaimana para penulis bisa menempatkan posisi sebagai penulis dan menemukan celah untuk mencari ide yang dianggap baru dan belum ditemukan. Prof. Irwan memberikan contoh seperti halnya pendidikan agama. Bagi Prof. Irwan ada masalah yang belum ditemukan dalam pendidikan agama. Begitu pula dalam kehidupan anak-anak yang merantau ada masalah yang muncul, masalah traumatis dan masalah psikologis. Masalah inilah yang menjadi dasar untuk menemukan topik ataupun ide yang baru. Maka tulislah masalah yang orang lain belum tau. Ada lagi contoh semisalnya, misinterpretasi hadis, deradikalisasi, atau masalah-masalah yang ada di suatu tempat. Artinya menulis itu memberi tahu pada orang yang belum tahu.

Kedua, menulis solusi atau obat. Semisalnya metode Islamic healing sebagai obat untuk menyembuhkan trauma anak. Atau Dzikir bisa menyembuhkan penderitaan narkoba. Atau air sirih bisa menurunkan kolestrol. Scopus sangat senang jika kita menulis dengan memberikan ide atau solusi dalam pemikiran-pikiran yang berbeda. Prof. Irwan menegaskan bahwa penting bagi kita menulis sesuatu yang dikehendaki atau yang diminati jurnal. Apalagi, paradigma menulis harus dimulai dengan sesuatu topik yang dinginkan oleh para pengulas, jika tidak maka potensial ditolak akan besar. Dari sini, Prof. Irwan menyampaikan konsep CCTES yang terdiri dari controversy, change, trend, emergency, dan solution. Konsep ini dirumuskan IA Scholar untuk menemukan variabel-variabel pada topik yang dominan dan diminati oleh scopus. Semisalnya controversy, judul topik penelitian ini mencangkup terkait kontestasi nilai, penolakan, dan resistensi dalam dinamika kehidupan sosial. Topik-topik seperti ini sangat diminati oleh scopus untuk memberikan informasi terkait dengan konflik kehidupan yang muncul atas dasar pro dan kontra suatu keadaan.

Menariknya, setelah Prof. Irwan menyampaikan terkait dengan CCTES, dia menyampaikan kembali tujuh hukum menulis IA Scholar. Yang sebagaimana tujuh hukum menulis itu terdiri dari reality law, realitas hukum, IA Scholar menerapkan bahwa seorang penulis harus menyadari realitas sosial yang berkembang untuk dijadikan temuan yang menarik dalam suatu kasus. Question law, pertanyaan yang senantiasa memiliki pengetahuan yang dasar untuk mengetahui sesuatu yang tidak tahu. Pertanyaan ini sering kali lemah dalam suatu tulisan. Sehingga sulit diterima oleh scopus. Gap law, harus memperhatikan kesenjangan pada literatur. Kesenjangan inilah yang memungkinkan kita untuk melacak pembaharuan penelitian di masa depan. Evidence law, fakta dan data harus beriringan, sehingga dapat menemukan metode penelitian yang kuat bagi kita. Argument law, tulisan itu harus kuat dan memiliki argumentasi yang logis. Contribution law, dalam penulisan, menyarankan ataupun memunculkan kontribusi untuk peneliti akan mempertimbang penilaian artikel kita dapat diterima oleh pengelola jurnal. Minimal kontribusi ini ada di conclusion. Sehingga kemungkinan ditolak akan kecil dalam menerbitkan artikel scopus.
Terakhir, Prof. Irwan menyampaikan clarity Law diselesaikan dengan membuat 33 Paragraf di IA Scholar untuk memastikan clarity dalam tulisan kita. Clarity diukur dengan dua cara. Pertama, dengan koherensi dalam menulis. Menurut Prof. Irwan Koherensi akan membuat tulisan kita menjadi clear (jelas). Kedua, credibility, tulisan harus dibaca sesuai logika dan memiliki kualitas. Seperti contoh kalimat “table dua memperlihatkan”. Jadi logikanya jelas ujar Prof. Irwan.

Di akhir sesi, Prof Irwan menyampaikan kepada para peserta dengan mempertanyakan bahwa “Apa yang membuat kita susah menulis?” yaitu baginya struktur kita berpikir, cara kita mengkonsepsikan tulisan tidak sejalan dengan cara berpikir dunia publikasi. Jadi kapan berpikir? Kita harus memulai dengan reality. Kita harus punya fenomena. Kalau tidak punya fenomena tentu akan sulit. Dari fenomena itu anda menemukan suatu penyakit tidak? Coba cari disitu ada penyakit tidak. Atau obat yang ditemukan. Penyakit atau obat, dua hal ini harus ada. Discovery sangat penting. Baru bikin design penelitian. Pikirkan dulu fenomenanya, dari fenomena kita menemukan apa? Research Design untuk mencari ketemu atau tidak obatnya? Kalau sudah ketemu baru kita membuat argument secara analitik. Kemudian kita mencari literatur, ada tidak literatur. Baru membuat tulisan dalam scientific writing, dari situ lahirlah yang disebut sebagai knowledge contribution. Jadi kontribusi pengetahuan. Ketika sudah kita produksikan maka akan ada global publication. Kita moving ke next level. Dengan cara itu, kita bisa berhasil dalam dunia menulis. Struktur pemikiran dalam penulisan. Jadi pikirkan dulu, yang menjadi fenomena menarik. Begitulah ungkap Prof. Dr. Irwan Abdullah dalam paradigma menulis scopus dari IA Scholar Foundation.
