Review artikel sahabat IAS – IA Scholar Foundation baru saja menerima kabar baik dari salah satu mentor, Prof. Dr. Zaenuddin Hudi Prasojo, M.A, yang merupakan professor dibidang studi agama-agama di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak. Prof Zae menjadi mentor senior yang aktif di IA Scholar Foundation. Kemudian bersama dengan teman-temannya berhasil menerbitkan artikel yang berjudul “The Contribution of Habaib within the Ethno-Religious Society of Pontianak City” dalam jurnal Karsa: Jurnal Sosial dan Budaya Keislamanan. Artikel ini menawarkan wawasan mendalam mengenai kontribusi Habaib dalam masyarakat multi-religious dan multi-etnis di kota Pontianak.
Artikel ini mengambarkan bahwa kontribusi Habaib sangat krusial dalam kehidupan beragama, terutama dalam interaksi sosial antar etnis dan agama di kota Pontianak. Perspektif ini didukung oleh Miller (2013), yang melihat peradaban suku Melayu pada abad ke-18 (1787–1808) dalam penguasa tradisional Mempawah untuk mempertahankan pengaruh yang cukup besar atas wilayah-wilayah luas di negara. Dalam hal ini, para Habaib di Kalimantan Barat memiliki pengaruh besar dalam kehidupan sosial dan politik terutama yaitu Habib Husien Al-Qadrie sebagai mufti di kerajaan Mempawah, Opo Dieng Menambon. Habib Husien merupakan ulama yang berasal dari Yaman, Hadramaut. Beliau merupakan ayah dari Syarief Abdulrahan Al-Qadrie_pendiri kota Pontianak pada tahun 1887 H. Dalam hal ini, keturunan Habaib memiliki peran sentral dalam membangun kota Pontianak, walaupun banyak dilemma saat menjadikan Belanda sebagai sekutu.
Temuan penting lainnya dari Zaenuddin dan kawan-kawan ialah bahwa Habaib telah mencatatkan kontribusinya yang luar biasa dalam sejarah berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal ini nyatanya menunjukkan bahwa kontribusi para Habaib telah menjadi salah satu aspek terpenting dalam kehidupan beragama di Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Masyarakat Kota Pontianak mempunyai kebutuhan mendesak untuk menyikapi peran Habaib dalam kehidupan keagamaan dan sosial kota tersebut, sejak didirikan oleh Sultan Syarif Abdulrahman, salah satu Habaib berpengaruh di Kalimantan.
Menariknya lagi, Zaenuddin dan kawan-kawan mencoba membongkar jaringan-jaringan ulama Hadramaut dengan melihat organisasi Front Pembela Islam (FPI) yang dipimpin oleh Musthafa al-Haddad di kota Pontianak. Bagi mereka, FPI memiliki jaringan yang sangat kuat dalam memajukan Islamisme dan mendapat dukungan dari budaya Melayu untuk menekankan adat istiada berdasarkan prinsip-prinsip syariah. Zaenuddin dan kawan-kawan mengatakan bahwa “Konteks budaya ini menjelaskan mengapa beberapa tokoh Habaib di Pontianak bersimpati terhadap misi FPI, khususnya dalam mendukung prinsip “amar makruf nahi munkar” (amar ma’ruf dan nahi munkar). Alasannya, pada tahun 2008, Musthafa mulai memimpin FPI dan secara aktif menyebarkan nilai-nilainya kepada komunitas Muslim di daerah dengan populasi Dayak, seperti Landak. Pesannya bergema di kalangan warga yang budayanya sangat mengedepankan nilai-nilai agama, termasuk masyarakat Madura. Seiring berkembangnya organisasi, Musthafa memperkuat fokus FPI pada politik dan persatuan umat Islam. Ia menyerukan solidaritas umat Islam untuk mengatasi masalah antaretnis, khususnya ketegangan antara Melayu dan Madura. Seruan persatuan ini digaungkan oleh tokoh-tokoh seperti Rizieq Syihab pada acara Tablig Akbar di Singkawang tahun 2010. Dengan kata lain, artikel yang ditulis oleh Zaenuddin dan kawan-kawan ingin mengetahui kontribusi Habaib di kota Pontianak.
